Secara umum, penerapan jalur pipa bawah tanah digolongkan dalam dua bagian, yaitu:

Pipa untuk proses.
Pipa untuk keperluan utilitas.

Pipa proses yang melalui jalur bawah tanah sebaiknya dihindarkan, sedangkan pipa utilitas bawah tanah dapat diklarifikasikan menjadi dua bagian yaitu:

Pipa untuk aliran berdasarkan gravitasi.
-Pipa dengan sistem aliran bertekanan.
-Sistem aliran gravitasi, tergantung dari pusat gravitasi, sehingga -jalur-jalur perpipaan harus mempunyai slope. Dalam hal ini, sangat dianjurkan agar perbandingan slopenya 1:1000 untuk katup jalur di bawah permukaan tanah.

Penggunaan Pipa di Bawah Tanah

Perpipaan di bawah tanah digunakan untuk sistem sebagai berikut:

Pengaliran air jernih termasuk air hujan, air pembersih serta air pemadam kebakaran.

Proses pembuangan, baik pembuangan air, minyak Flow Meter LC termasuk pembuangan dari kantung uap dan pembuangan dari pompa. Pada sistem ini, rute menuju ke bagian pemisahan dan hidrokarbonnya biasanya dipisahkan.

Kombinasi pembuangan, yaitu suatu pengumpulan dari seluruh pembuangan (utilitas) dengan sistem perpipaan. Ini harus dialirkan menuju ke tempat pemisahan yang berukuran besar untuk membawa serta mengkombinasikan aliran dalam proses pemisahaan air dengan zat hidrokarbon.

Untuk keperluan pembuangan kotoran manusia, pipa akan diarahkan ke suatu tempat khusus (septic tank) yang berlokasi di daerah itu.

Pembuangan bahan korosi direncanakan sebagai suatu sistem pemisah pembuangan dari dalam suatu unit. Bahan tersebut bisa berupa amine, acid, karbonats dan larutan kimia lainnya yang dapat menimbulkan korosi.

Pada setiap unit aliran tersebut akan dikumpulkan pada suatu jalur pipa utama dan dialirkan ke kolam penampungan khusus. Setelah itu, dari kolam tersebut akan dipompakan ke suatu tempat untuk dinetralisasi.

Larutan yang telah dinetralkan dari senyawa-senyawa kimia apabila masih dapat digunakan maka akan dipompakan ke suatu tempat penyimpanan.