Baru 6 tahun klub sepak bola Serdadu Tridatu alias Bali United berkiprah di laga nasional. Tapi, prestasi yang sajian permain-permainan cantik dan prestasi membagakan membuat klub ini begitu cepat mengambil hati warga Bali. Bagaimana perjalanan Bali United selama ini dan kenapa Semeton begitu mecintai klub ini?

Si Klub Siluman

Klub Siluman, begitu terkadang sebutan yang disematkan kepada klub yang berdiri pada tahun 2015 ini. Pasalnya, Bali United adalah klub yang sebelumnya berbentuk perserikatan yakni Persisam Samarinda.

Seorang pengusaha sukses, Pieter Tanuri mengakuisisi Persisam pada tahun 2014. Pieter kemudian memilih Bali sebagai kandang klub setelah sebelumnya terbesit untuk mendirikan klub di Yogyakarta. Bali United diresmikan pada tanggal 15 Februari 2015.

Menaiki Tangga Teratas dalam Waktu Singkat

Tidak butuh waktu lama untuk Bali United menempati predikat sebagai klub papan atas Indonesia. Dua tahun berselang setelah pendirian, klub ini hampir menjuarai Liga1 2017 meski kemudian harus menempati posisi runner up juara.

Meski begitu, Bali United telah mencetak sejarah baru sebagai klub baru yang memasuki final. Dan hal tersebut bukanlah keberuntungan semata.

Pada tahun 2019, Bali United berhasil menjadi juara Liga 1 dengan menyisakan empat pertandingan. Hingga Liga 1 2021, Bali United masih dikatakan sebagai juara bertahan dikarenakan pada tahun sebelumnya Liga 1 dihentikan karena pandemi covid-19.

Merebut Hati Warga Bali

Setelah kedatangan Bali United, Bali tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat wisata. Tapi, juga sebagai kandang klub raksasa tanah air yang menyeramkan bagi setiap klub lawan yang bertandang.

Ini juga tentu membuat Merchandise Store Bali United terus dipadati para semeton ( julukan untuk suporter Bali United)  yang kini dengan bangga menggunakan atribute Bali United tidak hanya di dalam stadion tapi juga di luar stadion.

Hal ini jarang terjadi pada klub-klu baru lainnya. Di mana supporter lokal begitu mencintai klub yang bahkan usianya belum sampai satu dekade.

Setiap pertandingan Bali United selalu dipenuhi oleh supporter dan nyaris tidak ada bangku yang tersisa dari 23.081 kapasitas stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar. Pada tahun 2017, total jumlah laga kandang Bali United tercata 243.918 orang dari 17 pertandinga. Sedangkan, pada tahun 2018 meningkat menjadi 258.433 orang dan kembali meningkat pada tahun 2019 mencapai 294.072 orang.

Peningkatan jumlah suporter yang terus terjadi pada setiap laga yang dijalani oleh Bali United selama tiga tahun terakhir menandakan kecintaan warga Bali kepada klub satu ini semakin meningkat.

Alasan Warga Bali Mencintai Bali United

Dilansir dari bolaskor wawancara bersama Ketua Semeton Dewata Bulldog, Ketut Budi membeberkan beberapa alasan mengapa klub ini begitu dicintai oleh penduduk Bali.

Menurutnya, faktor utama yang memikat hari masyarakat Bali rela berbondong-bondong ke Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianya dan mendukung Bali United adalah soal transparansi dan profesionalisme.

Dirinya mengatakan kalau ribuan Semeton tidak peduli dengan sebutan tim siluman atau tim abal-abal yang disematkan kepada tim kebanggaannya. Dia dan suporter lainnya melihat bahwa Bali United baik secara tim maupun menajemen memiliki profesionalisme tinggi.

Tidak ada yang manajemen tutup-tutupi dan ini membuat semeton semakin semangat mendukung Bali United. “Kita sekarang memiliki tim profesional yang bahkan di luar negeri, tim-timnya sudah mengajak Bali United bertanding,” kata Ketut Budi pada Bolaskor.

Kini, ribuan warga Bali akan terus meramaikan stadion, merchandise store, markas-markas suporter dan jalan-jalan dengan menyandang predikat sebagai Semeton, suporter Bali United.