Contoh iklan pendidikan
toriqa.com

Tanggal 2 Mei merupakan hari pendidikan nasionnal Indonesia (HARDIKNAS). Diperingatinya hari pendidikan nasional ini, diharapkan pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik.

Diharapkan juga memiliki kurikulum yang lebih bagus dari sebelumnya untuk menciptakan generasi penerus yang pintar.

Namun, fakta membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia belum bisa membuat bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki karakter yang kuat untuk mendidik anak-anak penerus bangsa.

Kurangnya kualitas pendidikan yang merata ke seluruh pelosok tanah air, membuat kualitas anak didik kurang maksimal dalam menyerap ilmu yang diperoleh.

Sudah harus menjadi perhatian khusus oleh dinas pendidikan Indonesia untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Caranya sebenarnya bisa dengan berbagai macam, salah satunya bisa dengan membuat iklan pendidikan yang menarik dan bagus.

Berikut ini 7 Fakta Miris Pendidikan di Indonesia

Disekolah Tidak diajarkan Budaya Asli Indonesia

Dengan budaya, kita bisa mengetahui siapa jati diri kita sebenarnya, namun hal ini malah jarang diajarkan di sekolah-sekolah. Semakin tinggi sekolah kita, semakin tidak ada pelajaran budayanya.

Sehingga banyak anak-anak Indonesia yang lebih menyukai budaya barat daripada budaya mereka sendiri, mereka lebih mengetahui cerita anime Jepang daripada cerita tentang sejarah Indonesia.

Semangat Juang Siswa di Kota Berbeda dengan yang di Desa

Kehidupan kota yang sangat keras dapat mempengaruhi siswa yang sekolah, mereka (siswa) yang sekolah di Kota kebanyakan disibukkan dengan mencari jalan untuk bolos sekolah, tawuran, bahkan minum-minuman keras.

Berbeda dengan siswa yang berada di perdesaan, mereka memiliki semangat yang tinggi dan perjuangan untuk datang ke sekolah meskipun mempertaruhkan nyawanya. Padahal dengan pelajaran seadanya namun perjuangan untuk hadir ke Sekolah sangat tinggi.
Standard Nilai.

Standard Nilai pendidikan di Indonesia itu nilai tujuh, dibawah nilai tersebut siswa tidak akan naik kelas. Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa setiap manusia terlahir dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Namun di Indonesia yang dijadikan standard nilai adalah pelajaran bukan moral dan etika, alhasil setelah lulus sekolah para siswa banyak yang memperlihatkan perilaku aslinya.

Ada yang melawan polisi padahal siswanya yang salah, mengadakan pesta kelulusan.

Masyarakat Indonesia menganggap kepintaran seseorang itu hanya dilihat dari pelajaran matematikanya, jika matematikanya mendapatkan nilai bagus maka siswa tersebut pintar jika tidak maka dianggap bodoh.

Paradigma dan anggapan ini menjadi fakta miris pendidikan di Indonesia yang harus segera dibenahi.

Biaya Pendidikan yang Mahal

Meskipun sekolah negeri gratis namun masih banyak siswa yang berhenti sekolah karena tidak punya biaya. Biaya untuk membeli seragam dan alat-alat tulis menjadi alasan kenapa banyak siswa yang putus sekolah.

Selain itu jarak antara sekolah dan rumah siswa yang jauh membuat siswa membutuhkan biaya untuk transportasi yang tentunya membutuhkan biaya harian yang kadang memberatkan bagi kalangan yang tidak mampu.

Tidak hanya di tingkat sekolah, di kampus pun juga begitu. Biaya kuliah yang sangat mahal membuat kebanyakan pelajar-pelajar Indonesia hanya berhenti di bangku sekolah tingkat atas. Memiliki embel-embel negeri, namun SPP nya tetap saja mahal.

Biaya hidup ketika kuliah juga sangat mahal. Keadaan ini menjadi salah satu fakta miris pendidikan di Indonesia. Jika kita lihat Jerman, pemerintahannya menggratiskan warganya untuk belajar hingga di perguruan tinggi S3.

Ujian nasional tanpa pentingnya

Menurut pendapat saya, yang berpartisipasi dalam ujian nasional, ujian akhir ini tidak penting karena hanya menghancurkan siswa Indonesia.

Meskipun guru harus mengajar siswa mereka untuk selalu berdoa sebelum belajar atau sebelum melanjutkan dengan tinjauan nasional. Ini akan membuat siswa yang tenang dan dapat bekerja pada pertanyaan dengan tenang.

Guru juga mempersiapkan siswa mereka sebelum tinjauan nasional. Mereka dapat dilatih dalam berbagai pemeriksaan pada tahun-tahun sebelumnya sehingga siswa siap untuk mengatasi National Ujin.

Karena ancaman belum lulus dari sekolah dan berulang pada tahun ketiga, banyak siswa yang berselingkuh dengan menipu selama ujian.

Bahkan ada guru yang mengajar siswa mereka untuk menipu karena mereka takut sekolah, mereka akan diberi label buruk karena siswa tidak lulus.

Tetapi sebagai nama sekolah dipertaruhkan ketika implementasi ujian nasional, yang nyata di tanah telah terjadi banyak keputihan sehingga murid-muridnya dapat berhasil semuanya.

Supervisor yang ada hanyalah patung selama ujian, mereka meninggalkan murid-muridnya berlatih. Ini tentu menghancurkan karakter siswa dan guru.

Sisi yang salah dari tinjauan nasional lainnya adalah masalah yang diuji tidak sesuai dengan kemampuan semua siswa di Indonesia.

Seperti dijelaskan sebelumnya, siswa dari negara-negara terpencil tidak menerima kursus yang diajarkan di sekolah-sekolah di kota. Tetapi pemerintah kita mengandaikan semuanya juga rata-rata.

Selain itu, ujian nasional hanya membelanjakan anggaran pemerintah. Ini membuat ulasan nasional tidak menjadi referensi yang tepat untuk mengukur kapasitas dan kecerdasan siswa Indonesia.

Bahkan, itu telah melakukan salah satu studi di Indonesia, yang ditandai dengan adanya sekolah yang muridnya belum lulus ujian nasional.

Insiden ini adalah salah satu peristiwa menyedihkan pendidikan di Indonesia sekarang, di mana tinjauan nasional adalah momok untuk sekolah-sekolah pinggiran kota.

Kurikulum yang tidak mematuhi siswa Indonesia

Sebagai manusia, kita diciptakan oleh Tuhan dengan kapasitas dan tingkat atau kapasitas yang berbeda untuk juga menyerap pengetahuan yang berbeda.

Namun di Indonesia, semua siswa menyamakan kemampuan mereka dengan kurikulum di Indonesia.

Semua siswa diajarkan dan harus menjadi pelajaran yang tepat, bahkan jika semua siswa menyukai pelajaran yang tepat. Ada siswa yang menyukai musik, olahraga, seni, dll.

Program saat ini mengharuskan siswa untuk menjadi pelajaran yang tepat ketika lulus kemudian, hanya 5% dari pelajaran Indonesia yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin ketika kita membeli Pentol di jalanan menggunakan rumus matematika.

Jika kita membandingkannya dengan negara lain, kurikulum di Indonesia sangat berat bagi siswa. Situasi ini adalah fakta pendidikan yang menyedihkan di Indonesia yang harus segera menarik perhatian pemerintah Indonesia.

Di negara lain, pendidikan memberikan prioritas pada pendidikan moral dan etika sehingga menghasilkan generasi yang memiliki karakter yang kuat.
Kualitas pendidikan rendah

Tidak adanya guru di Indonesia membuat pengajaran kelas tidak optimal. Guru yang tidak berada di ladang mereka wajib mengajarkan pelajaran yang tidak dikendalikan.

Misalnya, guru fisik juga mengajarkan cerita secara bersamaan atau guru olahraga untuk menjadi guru matematika. Masih di Indonesia yang hanya memiliki 1 guru mengajar di semua tingkat sekolah dasar hingga abad ke-6.

Ini tentu saja kualitas pendidikan di Indonesia. Ini menjadi fakta menyedihkan dari pendidikan di Indonesia yang harus segera dikoreksi dengan mengorganisir seorang guru yang adil di negara-negara terpencil.

Insiden guru yang mengajar tidak sesuai dengan lahan mereka umumnya terjadi di sekolah-sekolah di negara-negara terpencil.