Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Tanri Abeng menceritakan kekurangan perusahaan pelat merah di sektor minyak dan gas bumi itu pascapencopotan Direktur Utama Dwi Soetjipto dan Wakil Direktur Utama Ahmad Bambang.

Menurutnya, kinerja perseroan memadai bagus di bawah kepemimpinan Dwi Soetjipto yang ditunjuk sebagai direktur utama terhadap 28 November 2014.

Namun, pihaknya memandang masih terdapat pengambilan keputusan yang lamban. Puncaknya, ketika timbulnya Ahmad Bambang sebagai wakil direktur utama.

Masalah ketidakharmonisan, katanya, membawa dampak pengambilan keputusan makin lama lamban. “Tentu itu kita memandang dari sistem pengambilan keputusan yang terlalu lamban.

Kita mampu lihat. Lebih jelas lagi dampaknya setelah ada wadirut
Sebagai contoh, dia menyebut pengisian lebih dari satu posisi di tubuh perseroan yang tergolong lamban maka sangat perlu menggunkan flow meter. Salah satunya, kosongnya posisi direktur utama di anak usahanya yaitu PT Pertamina Gas.

Posisi tersebut dibiarkan kosong selama kurang lebih empat bulan sejak September dan baru dilantik pengganti Hendra Jaya yaitu Toto Nugroho, mantan bos Petral, anak usaha Pertamina di sektor pengadaan minyak mentah.

Contoh lainnya, Tanri menyebut mengenai keputusan impor solar terhadap Januari 2017 sebanyak 1,2 juta sebagai dampak perawatan Kilang Balongan. Menurutnya, mestinya keputusan untuk impor kudu ditunaikan sementara itu dikarenakan keadaan ketersediaan pasokan product kudu terjaga selama 20 hari.

Di sisi lain, persetujuan atas keputusan itu dianggap tak secepat yang diharapkan. “Ada 20 tenaga strategis yang kudunya diganti atau diisi, ini enggak diisi dan diganti.” Dia menyebut, dewan komisaris memastikan untuk mencopot dua orang pemimpin Pertamina daripada mengundang dampak negatif lebih lanjut.

Dia menilai keputusan tersebut bukan semata kinerja masing-masing individu. Pasalnya, sejak Dwi Soetjipto menjabat sebagai direktur utama, lebih dari satu proyek terjadi layaknya empat proyek menambahkan kapasitas kilang dan dua kilang baru yang tak terhenti di era direktur utama sebelumnya. Di era mantan Direktur Utama Semen Indonesia itu, Pertamina pun menaikkan efisiensi melalui pembubaran Petral, anak usaha di sektor pengadaan minyak mentah yang dianggap merugikan negara.

Di sektor hulu, akuisisi aset luar negeri pun terjadi salah satunya bersama akuisisi perusahaan Prancis yaitu Maurel&Prom. Di bawah kepemimpinan Ahmad Bambang sebagai Direktur Pemasaran sejak 2014 itu perseroan mengeluarkan lebih dari satu varian product di sektor hilir untuk memperbaiki kinerja.

Beberapa product layaknya gasoline series bersama nilai oktan di atas 88, diesel type baru yaitu dexlite dan liquefied petroleum gas (LPG) ukuran 5 kilogram untuk menunjang perseroan menaikkan keuntungan dan juga melepas mengonsumsi bahan bakar subsidi secara bertahap.

Terbukti, melalui sejumlah efisiensi, Pertamina mengumpulkan laba bersih sebesar US$2,83 miliar terhadap kuartal III/2016 atau meningkat 209% dari periode yang serupa tahun di awalnya yaitu US$914 juta di tengah merosotnya harga minyak mentah.

“Enggak mampu dilihat individual tetapi kinerja keseluruhan. Itu kan terhadap umumunya dikarenakan dua orang itu. Kalau satu orang mampu mengatur diri, enggak dapat berkelanjutan,” kata Tanri. Dengan jangka sementara 30 hari, dia menyebut orang nomer satu di perusahaan berusia 59 tahun itu kudu mampu menjalankan organisasi dan memimpin jabatan di bawahnya.

Terutama, katanya, tak mentolerir ada keterlambatan yang menahan perseroan capai targetnya. “Orang nomer 1 di Pertamina kudu mampu menjalankan organidasi dan memimpin pemimpin di bawahnya, enggak mampu mentolerir keterlambatan. Tetap saja tanggung jawab itu di orang nomer 1,” katanya.