Berikut ini mencakup berbagai jenis tradisi unik yang ada di banyak tempat di Pulau Bali, serta penjelasan detailnya di bawah ini:

1. Tradisi Mekotek

Prosesi atau ritual Mekotek ini hanya bisa Anda temukan di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Juga dikenal sebagai Gerebeg Mekotek, tradisi unik di pulau Bali diadakan setiap 6 bulan (210 hari), dengan hak selama perayaan Kuningan (10 hari setelah Galungan).

Prosesi tersebut diadakan dengan tujuan menghentikan TNI Angkatan Darat guna melindungi dari penyakit dan dapat memperoleh keselamatan. Awalnya tradisi Mekotek menggunakan tongkat besi, agar tidak melukai peserta, menggunakan kayu pulet sepanjang 2-3,5 meter yang telah dikupas kulitnya agar terlihat lembut.

Jika Anda ingin jalan-jalan di daerah Bali & sekitarnya, bisa sewa mobil di bali dengan harga terbaik pada tautan tersebut.

Tongkat tersebut digabungkan menjadi satu formasi kerucut, bunyi “tek, tek” dari kayu yang bertabrakan maka dikenal sebagai Mekotek. Budaya dan tradisi Badung Bali yang unik masih dilestarikan hingga saat ini.

2. Gebug Ende Seraya

Himbauan tersebut juga dikenal dengan sebutan tongkat coklat, dimana ada dua orang yang saling berhadapan dan masing-masing menyerang dengan tongkat 1,5-2 meter dan tangan yang lain memegang tameng untuk mencegah serangan musuh, antara keduanya dibatasi oleh tongkat tebu (diameter). Agar tidak memasuki wilayah lawan.

Pertarungan rotan ini tidak hanya membutuhkan keterampilan tetapi juga keberanian, karena setiap peserta dapat terkena rotan musuh.

Keunikan tradisi di desa Seraya, Karangasem – Bali Timur ini masih menjadi warisan budaya sampai sekarang, tujuan utama dari prosesi gebug ende ini adalah ritual adat berdoa memohon hujan, dan hal ini dilakukan pada saat musim kemarau yaitu di Oktober – November setiap tahun.

Kondisi geografis desa Seraya yang terletak di daerah perbukitan rawan masalah air, sehingga dilakukan ritual meminta hujan di desa ini. Selain itu juga memiliki beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat berwisata di pulau Bali.

3. Tradisi Mesbes Bangke

Budaya dan tradisinya benar-benar ekstrim dan unik di Pulau Bali. Tradisi ini ada di Banjar Buruan, Tampak Siring, Gianyar. Memang tradisi jangan-jangan Suso atau mati-mati terlihat mengerikan dan mengerikan dan menyenangkan, terutama bagi mereka yang baru atau akrab dengan tradisi ini.

Dimana jenazah atau orang yang akan dibakar (kremasi), akan dirobohkan oleh permainan warga Banjar sebelum dialirkan ke ruang bakar, jenazah akan ditunggu oleh penghuni di luar rumah, setelah jenazah masih berdiri diam di pintu gerbang Rumah tersebut, kemudian warga nyuwek- mengoyak jenazah tersebut, dengan senang hati bahkan ada yang naik di atas jenazah yang mereka bawa.

Hanya tradisi ini berlaku untuk mereka yang memiliki Kremasi (pribadi), tidak berlaku untuk kremasi massal. Budaya dan budaya khas Gianyar masih dipraktekkan hingga saat ini.

4. Tradisi Makepung

Makepung sendiri artinya mengejar, menggunakan sepasang kerbau, dan di pulau Bali hanya bisa ditemukan di kabupaten Jembrana, maka dengan tradisi Makepung ini kabupaten Jembrana juga dikenal dengan sebutan “Bumi Makepung”.

Perlombaan kecepatan dengan joki atau pelatih yang dikendalikan kerbau, berkompetisi mengejar kerbau di depan, pemenang ditentukan oleh kerbau yang dapat memperkecil atau mengendurkan jarak antara dua pasang pengejaran kerbau, yaitu tidak menentukan siapa yang akan mencapai garis finis. Dulu ini sudah menjadi tradisi tahunan mengikuti kelompok tani di Jembrana.

Kerbau pacuan dipilih dan diperlakukan secara khusus layaknya seorang atlet, bahkan sebelum lomba dimulai pemiliknya tidak lupa melaksanakan ritualnya. Diadakan setiap hari Minggu antara Juli dan November setiap tahun. Tempat-tempat wisata ini bisa menjadi agenda wisata Anda, saat Anda berwisata di waktu yang tepat di pulau Bali.

5. Tradisi Megibung di Karangasem

Tradisi makan bersama pada saat upacara adat sudah menjadi budaya masyarakat Karanagsem di Bali Timur, seperti saat ada pesta pernikahan, otonan, 3 bulan atau upacara adat lainnya, kini masih tetap ada di Karangasem, meski beberapa warga kini menyiapkan makanan prasmanan. (makan jalanan) jika ada hajatan, namun tradisi megibung ini tidak bisa ditinggalkan.

Bahkan saat Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, pernah memberikan massa megibung di wisata luar angkasa Ujung Karangasem dan menggiling rekor Muri. Megibung atau makan bersama sekelompok 5-6 orang disebut “jelly” duduk di dekat “gibungan” sebagai wadah nasi di dalam wajan atau nampan, lengkap dengan lauk nabati yang disebut “buket” dan mereka makan bersama dan menikmati komposisi gosip yang menyenangkan.